Akustik arsitektur merupakan ilmu dan teknik yang bertujuan untuk mencapai suara yang baik dan ketenangan di dalam bangunan telah mengalami perkembangan yang signifikan lebih dari dua dekade terakhir, memunculkan teknologi-teknologi baru dan meningkatkan ketertarikan masyarakat dalam bidang akustik, bersamaan dengan meningkatnya area perkotaan yang padat dan menjadikan ketenangan adalah suatu kemewahan yang tidak ternilai.
Telah diyakini secara luas bahwa penerapan pertama metode ilmiah modern pada akustik arsitektur dilakukan oleh fisikawan asal Amerika Serikat, Wallace Sabine, di ruang kuliah Museum Fogg di Harvard. Namun, tidak mengherankan jika sebelum Sabine melakukannya, telah banyak contoh penerapannya di seluruh dunia, yang mengeksplorasi gagasan serupa dalam bentuk yang lebih sederhana sejak berabad-abad yang lalu.
Berikut beberapa bangunan yang menerapkan arsitektur akustik dari seluruh dunia. Bangunan-bangunan ini khususnya digunakan untuk live musik.
Bangunan-Bangunan dengan Akustik Arsitektur yang Luar Biasa
1. Chapel of Sound di Chengde, China
Berlokasi di pegunungan berlembah yang berjarak dua jam dari pusat Beijing, The Chapel of Sound adalah sebuah concert hall monolithic berkonsep open-air* yang selesai dibangun pada tahun 2021. Dari dalam concert hall ini Anda dapat melihat pemandangan berupa reruntuhan Tembok Besar era Dinasti Ming.
Didesain oleh perusahaan arsitektur yang berbasis di Beijing, OPEN, proyek pembangunannya dipimpin oleh dua pendiri perusahaan: Li Hu dan Huang Wenjing, bangunan ini seluruhnya terbuat dari beton yang dilengkapi dengan agregat batuan lokal yang kaya mineral.
.jpg)

Bangunan ini mencakup amhiteater semi outdoor, panggung, area menonton, dan sebuah green room.
Akustik arsitektur dirancang agar para pengunjung dapat mendengarkan musik dengan perasaan yang asing dan sangat menyentuh yang disajikan dalam lanskap yang alami. Para arsitek juga ingin orang-orang bersantai dan mendengarkan suara alam yang menenangkan.
Ketika tidak ada pertunjukkan, concert hall ini juga menjadi ruangan yang tenang bagi perkumpulan komunitas dengan pemandangan langit dan pemandangan sekitar.
*) open-air adalah konsep bangunan terbuka. Chapel of Sound sendiri merupakan bangunan yang semi terbuka seperti halnya stadium/stadion. Meskipun dikelilingi dinding, tetapi bagian atapnya semi terbuka, pada beberapa dinding terdapat jendela-jendela besar yang tidak dilengkapi dengan penutup.
2. Music Hall di Istana Ali Qapu, Isfahan, Iran
Dibangun pada abad ke-17, Ali Qapu adalah salah satu istana terkenal peninggalan Dinasti Safavid dari Kerajaan Persia. Berlokasi di sisi barat Naqsh-e Jahan Square di Isfahan, Iran. Memiliki tinggi 48 meter, gedung enam lantai ini dibangun atas perintah Shah Abbas I dan diteruskan oleh Shah Abbas II.
Ali Qapu memiliki banyak fitur arsitektur yang luar biasa, mungkin yang paling terkenal adalah music hall di lantai enam, tempat musisi memainkan musik tradisional Persia secara live seperti setar, kamanchen, dan daf untuk menghibur raja dan tamunya.


Di keempat sisi bagian atas dinding music hall, serta di dalam miniatur langit-langit muqarnas (muqarnas adalah ragam bentuk dekoratif dalam arsitektur tradisional Islam dan Persia)terdapat desain berdinding ganda yang menampilkan pola khas berceruk yang berbentuk vas dan bentuk-bentuk lainnya.
Ceruk-ceruk tersebut selain menambah kemegahan visual juga merupakan bentuk dari akustik arsitektur karena mereka menyerap gema dan menciptakan--kemungkinan besar--sistem suara quadraphonic berteknologi rendah. Quadraphonic sendiri di masa modern dikenal sebagai sistem suara 4.0 surround.
3. Teatro Regio di Turin, Italia
Pada abad ke-16, di Turin, Italia, beberapa bangunan menyediakan tempat untuk produksi opera. Namun, baru pada tahun 1713 gedung opera yang layak mulai dipertimbangkan. Perencanaannya dimulai di bawah komando arsitek Filippo Juvarra. Namun, peletakkan batu pertama baru dilakukan pada masa pemerintahan Charles Emmanuel III pada tahun 1738 setelah Juvarra meninggal.
Selanjutnya, pembangunan dipimpin oleh Benedetto Alfieri hingga gedung opera selesai dan bagian dalamnya didekorasi oleh Bernardino Galliari. Pada tahun 1936 kebakaran menghancurkan bangunan ini. Sebuah kompetisi nasional diadakan untuk mencari arsitek untuk mengembalikan bangunan yang terbakar.


Pembangunan tidak juga dimulai hingga tahun 1967 di bawah arsitek Carlo Mollino. Bangunan baru memiliki kapasitas 1750 dan berbentuk elips dengan panggung orkestra yang besar. Pada bagian langit-langitnya terdapat 37 kotak tempat tamu VIP menonton pertunjukkan.
Pada bangunan baru, akustik arsitektur berupa penambahan acoustic shell yang berfungsi untuk mengontrol sound reflection baik agar suara di dalam gedung teater menjadi lebih hidup maupun untuk mengarahkan pantulan suara ke arah tertentu.
4. Elbphilharmonie HafenCity, Hamburg, Jerman
HafenCity awalnya merupakan area tepi pelabuhan yang sulit diakses di Kota Hamburg, Jerman. Namun, sejak dibangunnya Elbphilharmonie Concert Hall, area ini menjadi kerap dikunjungi wisatawan.

Elbhphilharmonie di bangun tepat di atas gedung bekas gudang penyimpanan tersebut. Gudang tersebut tidak dirobohkan, melainkan bagian atasnya dibuat lantai tambahan. Dirancang oleh perusahaan kontraktor the Herzog & de Meuron. Ketika masih menjadi gudang penyimpanan, konstruksi bangunannya radikal dan abstrak. Namun, secara mengejutkan justru merupakan lokasi yang tepat untuk sebuah aula philharmonic.
Desainnya menggunakan ide dasar aula-aula orkestra di mana para pemain orkestra dan konduktor berada di tengah-tengah penonton dan akustik arsitektur yang diikuti dengan desain visual.
Di atas panggung terdapat “ufo” raksasa yang memiliki ekor memanjang dan menyatu dengan struktur bangunan. “Ufo” tersebut memiliki permukaan yang tidak rata yang berfungsi untuk memecah dan menyebarkan pantulan suara.

Tidak hanya berfungsi secara akustik “ufo” tersebut juga menjadi media terinstalnya pencahayaan.
Permukaan yang tidak rata bukan hanya diterapkan pada “ufo” tersebut, langit-langit ruangan secara keseluruhan juga memiliki permukaan yang tidak halus. Pun pada sebagian dinding, termasuk pada tribun penonton.
5. Fertörákos Cave Theatre, Fertörákos , Hungaria
Kota Fertörákos yang berada di Hungaria merupakan bagian dari situs warisan dunia UNESCO Austria-Hungary di Fertö-Lake Neusiedl merupakan tambang batu kapur di zaman Romawi. Akibatnya, celah-celah raksasa muncul di dalam lereng gunung, menciptakan gua yang memiliki karakteristik akustik yang unik.

Sejak tahun 1970-an, tempat ini digunakan sebagai “gedung” pertunjukkan. Pada tahun 2011 renovasi dilakukan. Tujuannya untuk memodernisasi ruangan teater, memasang perlengkapan pencahayaan dan sound system yang canggih, menciptakan ruang pameran baru yang dapat menunjukkan area-area geologis kawasan tersebut kepada para pengunjung, dan mengembangkan infrastruktur kontemporer.

Perusahaan arsitektur Hungaria, studio archi.doc ditugaskan untuk menyelesaikan proyek ini. Mereka membagi gua ini menjadi 3 bagian: area pertunjukkan teater, ruang pameran, dan paviliun. Terowongan, jalur landai, dan dinding yang terintegrasi menjaga tampilan asli tambang tersebut, sementara lantai baru ditambahkan di bawah panggung yang berfungsi untuk menyimpan peralatan.
Arsitektur akustik bukan hanya diperlukan pada bangunan-bangunan yang bertujuan untuk menyelenggarakan penampilan live music. Ilmu dan teknik ini juga diperlukan pada ruangan-ruangan lain yang kualitas suaranya perlu ditingkatkan mulai dari recording studio, tempat ibadah hingga ruangan-ruangan yang tak ada kaitannya sama sekali dengan musik seperti meeting room dan class room.
Baca juga: Acoustic Treatment Pada Gymnasium
Terapkan akustik arsitektur bersama konsultan akustik profesional MyStudio. Hubungi WhatsApp kami untuk diskusi lebih lanjut secara gratis. Cek Instagram, TikTok, dan Youtube kami untuk melihat penerapan arsitektur akustik.